Rekomendasi Novel Korea Bertema Feminisme dan Patriarki

gambar tersebut menyebutkan rekomendasi novel korea bertema feminisme dan patriarki gambar tersebut menyebutkan rekomendasi novel korea bertema feminisme dan patriarki

Rekomendasi Novel Korea Bertema Feminisme dan Patriarki

Generasi baru novelis wanita Korea membongkar patriarki, membahas diskriminasi gender dan praktik misoginis, toxic masculinity, dan industri kosmetik melalui karya mereka.

Novel Kim Jiyoung, Born 1982, yang ditulis oleh Cho Nam-Joo merupakan karya sastra Korea Selatan yang paling populer di mancanegara selama lima tahun terakhir. Novel sensasional ini menjadi perbincangan setelah dipuji oleh RM BTS dan Sooyoung SNSD karena berhasil menghidupkan kembali perdebatan di Korea Selatan seputar masalah seksisme, kekerasan, dan rendahnya kesetaraan gender.

Kim Jiyoung, Born 1982 bercerita tentang seorang wanita kelas menengah yang harus berjuang melawan diskriminasi gender yang mengakar di masyarakat Korea Selatan.

Seperti kebanyakan wanita di Korea Selatan, Jiyoung mengalami berbagai bentuk diskriminasi gender sejak lahir.

Di rumah, adik laki-lakinya mendapat perlakuan istimewa sementara Jiyoung dan kakaknya yang sama-sama perempuan seperti tidak diharapkan.

Di sekolah, siswa laki-laki diberi kebebasan untuk memakai sepatu apa saja dengan alasan anak laki-laki lebih aktif dari anak perempuan, anak laki-laki juga makan lebih dulu, dan ketika Jiyoung mengalami pelecehan seksual dan mengadu kepada ayahnya, malah ia yang dimarahi.

Di tempat kerja, ada kesenjangan upah berdasarkan gender (wanita di Korea Selatan menerima pendapatan 32,5 lebih sedikit daripada pria), lingkungan kerja yang seksis dan diskriminasi terhadap wanita atas promosi jabatan.

Bahkan ketika Jiyoung memutuskan untuk berhenti bekerja dan berkeluarga, seksisme terus berlanjut, seringkali dari wanita lain di sekitarnya: I a dituntut untuk selalu melayani suami dan anaknya, dan dipandang sebelah mata sebagai seorang ibu rumah tangga.

“Jiyoung berdiri di tengah labirin,” demikian bunyi satu baris dari novel ini. “Dengan hati-hati dan tenang, ia mencari jalan keluar yang tidak ada.” Akhirnya, tekanan budaya patriarki yang begitu menindas membuat Jiyoung depresi dan mulai bertingkah aneh, serta mengalami gangguan psikotik.

If I Had Your Face, karya Frances Cha bercerita tentang empat wanita muda kelas pekerja yang tinggal di Seoul. Novel ini membahas hierarki berdasarkan kelas dan pilihan terbatas yang dimiliki wanita muda di negara tersebut.

Ada Wonna yang sedang hamil, yang dipaksa memilih antara anaknya atau kariernya; Ara, seorang penata rambut profesional yang terobsesi dengan bintang K-Pop Sujin; Kyuri, seorang pelacur yang mengukur semua hal dari tampilan visual, memutuskan bahwa operasi plastik ekstrem adalah satu-satunya cara agar ia bisa menaiki tangga kelas; dan Miho, seorang yatim piatu yang jatuh cinta dengan anak salah satu konglomerat Korea.

Dalam novel Frances, Seoul kontemporer digambarkan sebagai kota yang kejam. Seorang wanita rela mengeluarkan banyak uang untuk operasi plastik agar dapat bertahan di dunia kerja yang penuh persaingan. Memiliki wajah cantik melalui operasi plastik dipandang sebagai sesuatu yang dapat dicapai dengan kekayaan yang cukup dan kerja keras. Melalui karakter Kyuri, diceritakan bahwa ia tidak mengerti kenapa ada orang yang memilih untuk tidak melakukan operasi plastik meskipun mereka punya uang. Berdasarkan survei tahun 2017, satu dari tiga wanita pernah menjalani operasi plastik di Korea Selatan, negara dengan rasio praktik operasi plastik per kapita tertinggi di dunia. Operasi plastik sudah dianggap sama seperti pakaian dan makeup, sesuatu yang biasa dilakukan wanita untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Bukan hal baru bagi wanita untuk “menghilang” selama beberapa bulan sembari menunggu pemulihan pasca operasi plastik. Dalam novel Winter in Sokcho karya Elisa Shua Dusapin, protagonis yang tidak disebutkan namanya bekerja di sebuah hotel yang hampir kosong di kota wisata selama musim sepi. Salah satu tamunya adalah seorang wanita muda yang melarikan diri dari Seoul untuk pemulihan setelah operasi plastik. Ibu sang protagonis menyarankan agar ia menjalani operasi plastik juga, bukan karena wajah putrinya jelek, tetapi karena menurutnya hal itu akan membantu sang protagonis mendapatkan pekerjaan di Seoul. Pacar dan bibinya juga menganjurkan hal yang sama, sekali lagi bukan karena untuk mengubah penampilannya, tetapi untuk meningkatkan gaya hidup dan kariernya. Tubuh wanita dipandang sebagai sesuatu yang dapat ditempa: mudah, dan seringkali perlu, diubah agar sukses bersaing di dunia kerja yang kompetitif di Seoul.

Tetapi novel-novel ini juga mengungkapkan bahwa mendapatkan pekerjaan impian seringkali hanyalah awal dari masalah karakter mereka. The Disaster Tourist, sebuah novel baru karya Yun Ko-eun, juga menampilkan seorang wanita yang dipaksa memilih antara kariernya di agen wisata bencana dan keselamatannya. Setelah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh atasannya, Yona dianggap sebagai masalah, bahkan oleh dirinya sendiri. Meskipun rekan-rekan kerjanya yang lain ikut bersuara, menuding atasan mereka sebagai predator seksual, Yona takut jika berpihak kepada mereka dan menolak rayuan atasannya akan berakibat turun jabatan atau dipecat. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Yona menerima tawaran dari HR untuk melakukan perjalanan kerja ke salah satu tujuan wisata bencana mereka.